Rabu, 28 Oktober 2015

Terlalu Banyak Ketidakpentingan Dalam Aksi Mahasiswa Saat Ini


TERLALU BANYAK KETIDAKPENTINGAN DI AKSI JALANAN MAHASISWA SAAT INI

oleh: Amar Ar-risalah


Gerakan mahasiswa, hadir karena di dalam pikirannya, dia merenungkan antara ide dengan realita terdapat jarak yang sifatnya dapat berubah. masalahnya adalah, gerakan-gerakan itu hadir untuk mempersempit jarak itu, namun dengan cara-cara yang seringkali cenderung kurang pikirpanjang, pura-pura militan, dan tergantung amat dengan media, alias pragmatisme.


sebagai catatan, anda-anda alumni PKMU-entah kenapa-sering menggunakan istilah pragmatisme tanpa tahu artinya. Carilah sana di kamus, ya.

saya memperhatikan pola aksi BEM SI selama ini. rilis dan dampak aksi mereka saya kaji dan renungkan baik baik.

dalam setiap rilis yang keluar, terbersit pernyataan bahwa aksi tersebut untuk menggoyang opini media.


permasalahanya adalah, dari mana opini media akan berubah, jika justru aksi-aksi ini datangnya dari pengondisian opini "oleh media"?


ini seperti, sekelompok nyamuk yang berpikir untuk membunuh manusia dengan obat nyamuk. karena justru  ini membuktikan bahwa mahasiswa sekarang keracunan media online.

paling banter, keracunan broadcast.Apapun media kontra Jokowi, mesti dirituit, dikopas, lalu dijadikan alasan aksi untuk "memengaruhi opini media".

di sisi lain, aksi aksi itu terkesan menjadi "pemenuhan tugas dan penggugur kewajiban". semacam, kita harus shalat ashar agar tidak dosa. sebatas itu.


sejak aksi kenaikan BBM di Istana, aksi dukung mendukung DPRD vs Ahok yang begitu PKS, sampai dengan aksi-aksi setahun atau sekian bulan Jokowi, tidak ada sebuah tindak lanjut kecuali sebatas "Ya nanti..."

sepertinya, kawan BEM-ya saya juga sebenarnya-tidak bosan mengalami pola yang sama. Aksi, dipanggil komisi, dan pulang dengan janji. setiap tahun.


apa ndak bosan? kenapa tidak advokasi sampai tuntas? bukankah dalam misi besar kenaikan BBM, ada plot untuk melepas saham pertamina? ada plot untuk membuat masyarakat "terbiasa" dengan harga mahal?

bukankah dibalik konflik APBD, ada pembohongan publik bahwa sedang dibangun Barrier di pantai utara  Teluk Jakarta, yang hanya melindungi secuil lahan milik para warga negara cina dan WNA di Pantai Indah Kapuk, dengan dana yang mampu membuat kemacetan di Kramat Jati menghilang? aksi kita, sebatas aksi reaktif-lucu ya bahasanya-atau demo reaksi terhadap berita koran, bukan aksi yang didasari pikiran kritis dan tegak menantang kezaliman rezim, sebagaimana Imam Al-Auza’i di hadapan Khalifah As-Saffah atau Imam Hanbali di hadapan Abu Ja’far Al-Mansur.

pragmatisme ini rupanya meriapi hingga kaderisasi opmawa. Naif, ketika kita berharap terjadi pergantian rezim dengan sekedar aksi, namun menghadapi si tua Rektor, kita tidak berani.

Ada banyak hal-hal di dalam kampus yang mesti diruwat dan dirawat. misalnya, kenapa dalam proses pengambilan keputusan perubahan konsep Jurusan menjadi Prodi, tidak dilibatkan elemen opmawa? padahal, dampaknya frontal mengena pada BEM J dan BEM F. Ini soal dana!

kenapa dalam pengambilan keputusan UKT, tidak satupun mahasiswa diajak bicara?


kenapa dalam perpanjangan kontrak niaga parking, mahasiswa tidak ambil bagian? padahal, ketimbang setahun rezim, parkiran kita jauh lebih usang.


apakah aksi nasional ini, sekadar memenuhi absen di hadapan alumni dan televisi?


dari 30 ribu mahasiswa UNJ, berapa yang membutuhkan itu?


terlalu banyak keburukan di UNJ yang dibiarkan, menjadi bisul dan rumput yang mengakar.


UNJ adalah kampus pendidikan. rasanya, masih lekat di ingatan, ketika Prof Tilaar digelari Profesor Tua Yang Keras Kepala, karena kampus kita malah mengerbau pada kebijakan K 13. lha kok malah tega-teganya dengan bidang ilmu yang kita miliki, malah membahas soal energi?


Atau, kita kalah dalam kocokan arisan BEM SI?


Massa UNJ terlalu mahal untuk sekedar masuk TV, dan yang melakukan konferensi pers adalah seorang narsis entah dari mana.

di mana hasil kuliah soal pendidikan, jika bahkan jabatan Dirjen Kebudayaan kita biarkan diisi orang parpol yang jadi kutu loncat?

Ini sekadar kontemplasi. saya tidak merasa benar. catatan di atas, adala pengamatan tanpa data dan tanpa perlu dijadikan bahan ganjalan aksi.

#UKT
#UNJ
#NiagaParking

Tidak ada komentar:

Posting Komentar